THE CREATIVE SOCIETY
Desain / Desain / Editorial Pilihan

Tiga Suara Desain Indonesia di SaloneSatellite

Illustrative visual for editorial feature
Foto ilustrasi editorial, bukan dokumentasi karya seniman terkait.

Kehadiran tiga perancang Indonesia di SaloneSatellite 2026 memperlihatkan semakin beragamnya bahasa desain yang lahir dari tanah air. Zulyo Kumara, Cynthia Margareth, dan Studio Banda menghadirkan pendekatan yang berbeda, tetapi bertemu pada satu gagasan: material dan proses pembuatan bukan sekadar urusan teknis, melainkan bagian dari identitas sebuah karya.

SaloneSatellite menjadi ruang pertemuan desainer muda dengan industri, kurator, dan pengamat desain internasional. Dalam konteks ini, partisipasi Indonesia penting bukan hanya sebagai simbol kehadiran di Milan. Ia membuka kesempatan agar rancangan lokal dibaca dari sisi pemikiran, riset material, dan kemampuan menerjemahkan pengalaman budaya menjadi objek kontemporer.

Zulyo Kumara menempatkan sentuhan manusia sebagai bagian penting dari proses desainnya. Pendekatannya berangkat dari keingintahuan terhadap kemungkinan material dan hubungan antara konsep dengan keterampilan membuat. Alih-alih melihat proses produksi sebagai tahap terakhir, cara kerja ini menempatkan pencarian bentuk dan pemahaman konteks sejak awal perancangan.

Sementara itu, Cynthia Margareth mengeksplorasi hubungan objek, ruang, dan pengalaman manusia. Latar praktiknya dalam desain furnitur berkembang melalui eksperimen serta kolaborasi dengan perajin dan produsen. Melalui presentasi Crafting Contours, ia menyoroti bagaimana proporsi, gestur alami, dan ingatan budaya dapat berjumpa dalam bahasa desain yang terasa relevan hari ini.

Studio Banda, yang berbasis di Bali dan didirikan oleh Cokorda Suryanata serta Frans Sihombing, bergerak di wilayah desain industrial. Studio ini mengolah kembali kebiasaan fabrikasi dan teknik kriya lokal untuk mencari kemungkinan bentuk yang baru. Pertimbangan praktis tidak dipisahkan dari tujuan puitis; keduanya menjadi bagian dari proses menyeimbangkan eksperimen dan fungsi.

Ketiga praktik tersebut menunjukkan bahwa gagasan mengenai desain Indonesia tidak harus dibatasi pada satu gaya visual. Ada yang menonjolkan keterampilan tangan, ada yang mengeksplorasi hubungan tubuh dengan ruang, dan ada pula yang menantang cara material biasa dipahami. Keberagaman itu justru merupakan kekuatan ketika mereka memasuki percakapan desain dunia.

Tantangan berikutnya adalah menjaga agar perhatian internasional tidak berhenti pada momentum pameran. Kesempatan kolaborasi, kesinambungan produksi, dokumentasi proses, dan penghargaan terhadap pengetahuan perajin sama pentingnya dengan visibilitas. Bagi ekosistem kreatif Indonesia, kehadiran di SaloneSatellite dapat menjadi pintu menuju dialog jangka panjang antara desainer, industri, dan publik.

Kisah Zulyo, Cynthia, dan Studio Banda pada akhirnya mengingatkan bahwa desain yang kuat tidak sekadar menawarkan objek menarik. Ia memberi alasan mengapa sebuah bentuk dibuat, siapa yang terlibat dalam pembuatannya, dan bagaimana sebuah benda dapat membawa cerita dari tempat asalnya menuju dunia yang lebih luas.

Sumber rujukan: Artikel asli ↗. Tulisan ini ulasan editorial baru, bukan salinan.