Pameran What the Body Remembers yang dibuka 11 September 2026 di Labyrinth Art Gallery, Nuanu Creative City, Bali, menghadirkan 21 seniman, desainer dan studio dari Indonesia serta India. Pameran ini dikuratori oleh Bandana Tewari bersama Brina Paska.
Ketika tekstil dipahami sebagai arsip, bahan yang sehari-hari kita kenakan memperoleh lapisan makna baru. Proses merajut, menenun, memotong, menjahit, atau menghias bukan hanya keterampilan teknis; di dalamnya bisa tersimpan pengetahuan keluarga, sejarah perdagangan, perpindahan manusia, hingga kebiasaan sebuah komunitas.
Dua arah kuratorial yang digunakan—Hand as Archive dan Routes of Exchange—menunjukkan bahwa budaya material tidak pernah benar-benar diam. Teknik berkembang melalui perjalanan dan pertemuan. Motif dapat berubah saat berpindah tempat, sementara bahan yang sama memiliki penggunaan berbeda sesuai kehidupan masyarakatnya.
Pertemuan praktik mode dengan seni kontemporer juga membuka pembicaraan tentang batas disiplin. Busana dapat dibaca sebagai objek desain sekaligus ekspresi budaya, dan instalasi tekstil dapat mengajak pengunjung memahami hubungan antara tubuh, identitas, dan ruang.
Bagi Indonesia, tema ini memiliki resonansi khusus karena kekayaan teknik dan warisan tekstil dari berbagai wilayah. Namun membicarakan tradisi secara bertanggung jawab berarti tidak memperlakukannya sebagai ornamen tanpa pencipta. Nama perajin, komunitas, asal teknik, dan konteks penggunaannya sama pentingnya dengan keindahan visual.
Pameran lintas negara semacam ini memperlihatkan peluang untuk membangun dialog yang tidak sekadar membandingkan kemiripan motif. Pertanyaan yang lebih luas adalah bagaimana pengetahuan tangan diwariskan, siapa yang mendapat pengakuan, dan bagaimana kolaborasi berlangsung secara setara di masa depan.